Minggu, 25 April 2010





As we enter the twenty first century, there is a great change in business competition from single alone competition to network competition. It means that the supply chain which compete in the business competition and no longer individual firm. This condititon will have effect on a clear strategy which needed to compete with other competitors. Companies must have a clear vision about how they are going to be distinctly different and unique, how they are offering something different from their rivals to some different group of costumer. Today’s supply chain are placing their focus on how to optimize their performance and how to modify their perspective to align their competence and capability with the wants, desires, and needs of their customers.

In order to defined in this competitive market and to win the business competition, companies have to search and implement the best strategy for their business activity without ignoring their business competition. In other words, companies have to decide a good and appropriate strategy as a key millenium. In time of change, companies have two choices whether they will sit out the change until it utility become obsolete or seize the initiative and take action to grow faster and more profitability thain their competitors.

This paper is a literature review about the role of integrated supply chain on achieving manufacturing competitiveness. Section one will discuss the shifting of supply chain management in the recent past and in the future from operational change view. Section two will comparing the concept of supply chain management and integrated supply chain, the role of integrated supply chain in improving manufacturing competitiveness will be discussed in the third section.

The Operational Change in Supply Chain Management

Supply chain management is an integrative philosophy to manage the total flow of a distribution channel from supplier to the ultimate user. It is include partnerships and alliance among vendor, manufactures, and transformation of public warehousing companies. The idea of supply chain and its associated concepts is not new and arise from the three main stages in logistics evolution. The first stage. Many companies focused their attention on the physcal distribution or outbound logistic system, where goods were pushed through the supply chain system did not consider what customer wants but rather tried to predict what it would be. These factors encompasses the more rational customer about the product, globalization of the economy and market has created and increasing competitive pressure, technological change, changing channel structure, and government policy resulted in lower cost and higher transportation service.

Comparing Supply Chain Management and Integrated Supply Chain

The issue of supply chain management is not new in today’s bussines compettion since it is known that the imprtant of time as competitive weapon and the ability to meet customer and market demand with shorter delivery times has been recognizedespecially in network competition. Getting the right time to the customer is not only crucial to competitive success but also the key to survival. Having the right product available, in the right place at the right time, enables the business to compete in this volatile market place. Williamson et al. Defined supply chain management as the managementof interconnecton of organization which relate to each other through upstream and downstream linkage between the different process that produce value in the form of product and services to the ultimste consumer. While seuring defined supply chain management as the integration of these activities through improved supply chain relationship, to achive a sustainable comprtitive advantage.

Integrated Supply Chain and Manufacturing Competitiveness

The 21 st century global market characterized by electronically connected and dynamic in nature competition, companies are concering to improve their organizational competitiveness.

In today’s information-driven, integrated supply chains are enabling organization to reduce inventory and costs, add product value, extend resources, accelerate time to market, and retain customer. Integrated chain management emerged and developed within the wider context of sustainable development, which is defined as a development that meets the needs of the present without compromishing the ability of future generations to meet their own needs. The external and internal integration can be accomplished by continous standardization of each internal logistic function and by efficient information sharing and strategic linkage with supplier and customer. It is therefore, the informationtechnology application play an important role in each stages of supply chain integration.

An inter-organizational information system has positive effect for all partners both internal and external partner to gain the information sharing. Both buyer and supplier can extend reach into partner system and able to see the operational information. The use of information technology can reduce supply chain management cost. Regarding the customer service improvement, the application of information technology will provide customer with their requirement in term of product, service and information that are essential in bussines today. Through it such as internet companies can improve communication with customer by receiving their complaints emergency notification and 24 hours acces to company information.

Managing an Integrated Supply Chain for Manufacturing competitiveness

The most important success factor to determined company’s success is having competitive advantage through organizational capability in differentiate themselves with their competitors and to produce a product or services in a lower cost. Competitive advantage can be achieved if companies have a high productivity, it means if the can produce in a higher volume of production so that the average cost can be reduced, otherwise the fixed cost are persistent, so the total cost is lower. There are some activities to support company’s productivity such as reducing inventory, reducing cost of production planning through some imprtant areas such as inventory and quality control, distribution plan, and scheduling.


Ketika kita memasuki abad 21, terjadi perubahan besar dalam persaingan usaha dari persaingan saja tunggal untuk kompetisi jaringan. Ini berarti bahwa supply chain yang bersaing dalam persaingan bisnis dan tidak lagi perusahaan individual. condititon ini akan berpengaruh pada strategi yang jelas yang diperlukan untuk bersaing dengan pesaing lainnya. Perusahaan harus memiliki visi yang jelas tentang bagaimana mereka akan jelas berbeda dan unik, bagaimana mereka menawarkan sesuatu yang berbeda dari saingan mereka untuk beberapa kelompok pelanggan yang berbeda.
rantai suplai Hari ini adalah menempatkan mereka fokus pada bagaimana mengoptimalkan kinerja mereka dan bagaimana memodifikasi perspektif mereka untuk menyelaraskan kompetensi dan kemampuan dengan yang diinginkan, keinginan, dan kebutuhan pelanggan mereka.
Untuk didefinisikan dalam pasar yang kompetitif dan untuk memenangkan persaingan bisnis, perusahaan harus mencari dan menerapkan strategi terbaik untuk aktivitas bisnis mereka tanpa mengabaikan persaingan bisnis mereka. Dengan kata lain, perusahaan harus memutuskan strategi yang baik dan tepat sebagai kunci milenium. Dalam masa perubahan, perusahaan memiliki dua pilihan apakah mereka akan duduk mengubah sampai utilitas menjadi usang atau mengambil inisiatif dan mengambil tindakan untuk tumbuh lebih cepat dan profitabilitas lebih Thain pesaing mereka.
Makalah ini merupakan tinjauan literatur tentang peran rantai pasokan terpadu untuk mencapai daya saing manufaktur. Bagian satu akan membahas pergeseran manajemen rantai pasokan pada masa lalu dan di masa depan dari pandangan perubahan operasional. Bagian dua akan membandingkan konsep manajemen rantai pasokan dan rantai pasokan terpadu, peran rantai pasokan terpadu dalam meningkatkan daya saing manufaktur akan dibahas pada bagian ketiga.

Perubahan Operasional dalam Manajemen Rantai Pasokan
manajemen rantai suplai merupakan filosofi integratif untuk mengelola aliran total saluran distribusi dari pemasok ke pengguna akhir. Hal ini termasuk kemitraan dan aliansi di antara vendor, manufaktur, dan transformasi perusahaan pergudangan publik. Ide rantai suplai dan konsep yang terkait adalah bukan hal baru dan timbul dari tiga tahap utama dalam evolusi logistik. Tahap pertama. Banyak perusahaan memusatkan perhatian mereka pada distribusi physcal atau sistem logistik outbound, di mana barang didorong melalui sistem rantai pasokan tidak menganggap apa yang diharapkan pelanggan melainkan mencoba memprediksi apa yang akan terjadi. Faktor-faktor ini mencakup pelanggan yang lebih rasional tentang produk, globalisasi ekonomi dan pasar telah menciptakan dan tekanan kompetitif yang meningkat, perubahan teknologi, perubahan struktur saluran, dan kebijakan pemerintah menyebabkan tingginya biaya yang lebih rendah dan pelayanan transportasi yang lebih tinggi.

Membandingkan Supply Chain dan Supply Chain Manajemen Terpadu
Masalah manajemen rantai pasokan tidak baru dalam usaha hari ini compettion karena diketahui bahwa imprtant waktu sebagai senjata yang kompetitif dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan permintaan pasar dengan waktu pengiriman yang lebih pendek telah recognizedespecially dalam kompetisi jaringan. Mendapatkan waktu yang tepat untuk pelanggan tidak hanya penting untuk keberhasilan kompetitif tetapi juga merupakan kunci untuk kelangsungan hidup. Memiliki produk yang tepat tersedia, di tempat yang tepat pada waktu yang tepat, memungkinkan bisnis untuk bersaing di pasar volatile. Williamson et al.manajemen rantai pasokan Ditetapkan sebagai interconnecton managementof organisasi yang saling berhubungan melalui keterkaitan hulu dan hilir antara proses yang berbeda yang menghasilkan nilai dalam bentuk produk dan layanan kepada konsumen ultimste. Sementara manajemen rantai pasokan seuring didefinisikan sebagai integrasi kegiatan tersebut melalui hubungan rantai pasokan ditingkatkan, untuk mencapai keuntungan comprtitive berkelanjutan.

Integrated Supply Chain dan Daya Saing Industri
Pasar global abad ke 21 ditandai dengan elektronik terhubung dan dinamis dalam kompetisi alam, perusahaan concering untuk meningkatkan daya saing organisasi mereka.
Dalam organisasi hari ini informasi-driven, rantai pasokan terpadu memungkinkan untuk mengurangi persediaan dan biaya, menambah nilai produk, memperluas sumber daya, mempercepat waktu ke pasar, dan mempertahankan pelanggan. manajemen rantai Terpadu muncul dan dikembangkan dalam konteks yang lebih luas dari pembangunan berkelanjutan, yang didefinisikan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan sekarang tanpa compromishing kemampuan dari generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Integrasi eksternal dan internal dapat dicapai dengan standarisasi yang terus-menerus setiap fungsi logistik internal dan dengan berbagi informasi yang efisien dan hubungan strategis dengan pemasok dan pelanggan. Oleh karena itu, aplikasi informationtechnology memainkan peran penting dalam setiap tahapan integrasi rantai pasokan.
Sistem informasi antar organisasi berpengaruh positif untuk semua mitra baik internal maupun eksternal mitra untuk mendapatkan berbagi informasi. Kedua pembeli dan pemasok dapat memperluas jangkauan ke dalam sistem mitra dan mampu melihat informasi operasional.Penggunaan teknologi informasi dapat mengurangi biaya rantai pasokan manajemen. Tentang peningkatan layanan pelanggan, penerapan teknologi informasi akan memberikan pelanggan dengan kebutuhan mereka dalam hal produk, layanan dan informasi yang penting dalam usaha hari ini. Melalui itu seperti perusahaan internet dapat meningkatkan komunikasi dengan konsumen dengan menerima pemberitahuan darurat dan pengaduan 24 jam akses ke informasi perusahaan.

Mengelola Rantai Pasokan Terpadu daya saing Manufaktur
Faktor keberhasilan yang paling penting untuk menentukan keberhasilan perusahaan adalah memiliki keunggulan kompetitif melalui kemampuan organisasi dalam membedakan diri dengan pesaing dan untuk menghasilkan suatu produk atau jasa dalam biaya yang lebih rendah.Keunggulan kompetitif dapat dicapai jika perusahaan memiliki produktivitas tinggi, itu berarti jika dapat memproduksi dalam volume produksi yang lebih tinggi sehingga rata-rata biaya dapat dikurangi, jika biaya tetap gigih, sehingga total biaya yang lebih rendah. Ada beberapa kegiatan untuk mendukung produktivitas perusahaan seperti mengurangi persediaan, mengurangi biaya perencanaan produksi melalui beberapa daerah imprtant seperti persediaan dan kontrol kualitas, rencana distribusi, dan penjadwalan.

Problem Mata Uang Kertas (Fiat Money)

Problem Mata Uang Kertas (Fiat Money)

Kehancuran kapitalisme di Amerika, Eropa dan dunia Internasional tinggal tunggu waktu. Terlebih lagi bila triliunan US Dollar dana penyelamatan itu tak kunjung membuahkan hasil. Inflasi, resesi dan depresi terus mengancam seolah membuktikan bahwa teori-toeri ekonomi sekarang ini mulai terbukti kerusakannya dan tumbang satu-persatu.

Kehancuran perekonomian ini merupakan harga yang sangat mahal dari sebuah transaksi keserakahan terhadap mata uang kertas (fiat money) ala Amerika dan dunia Eropa. Rakus, tamak, serakah, loba yang dibungkus dalam sebuah sistem ekonomi dengan mengandalkan kekuatan US Dollar sebagai Tuhannya. Padahal secara fakta telah terbukti bahwa sistem ekonomi (berdasarkan fiat money) tersebut mengandung banyak permasalahan didalamnya. Berikut beberapa problem mata uang kertas (fiat money).

Ajang Bisnis Menggiurkan

Dikarenakan ada selisih nilai didalam mata uang kertas (fiat money) antara nilai instrinsik dan nilai nominalnya, maka pastilah ada pihak yang akan diuntungkan. Dalam konteks bisnis, pencetakan mata uang kertas (fiat money) merupakan bisnis yang sangat menggiurkan. Bayangkan saja dalam sebuah ilustrasi, jika anda membuat sebuah produk A dengan biaya total produksi hanya Rp 400. Kemudian Produk A tersebut dijual seharga Rp 1.000, maka sudah untung Rp 600. Lantas kalau dijual seharga Rp 10.000, maka akan untung Rp 9.600. Atau bahkan kalau dijual seharga Rp 100.000, maka akan untung Rp 99.600. Coba bayangkan jika anda mencetak 1000 lembar uang RP 100.000, berapa keuntungan akan anda peroleh ?. Semakin tinggi anda menjualnya (angka nominalnya) maka keuntungan semakin banyak, karena berapapun anda jual, total biaya produksi tetap sama yaitu Rp 400 perlembar.

Dalam pencetakan mata uang US Dollar, nilai instrinsiknya sekitar 4 sen perlembar. Sedangkan nilai nominalnya bisa bervariasi, dari mulai $1, $ 10, atau bahkan $ 100. Dengan nilai nominal yang bervariasi tersebut, biaya Instrinsiknya tetap sama yaitu 4 sen. Kalau The Fed mencetak dengan nominal US $ 100 per lembarnya, padahal nilai sebenarnya cuma 4 sen, berapa keuntungan perlembarnya ?. Ternyata Amerika telah mencetak uang dengan nominal US $ 100 berlembar-lembar dan disebar ke seluruh penjuru dunia. Maka bisa dibayangkan, dengan pola bisnis seperti ini Amerika meraup keuntungan yang sangat besar. Bentuk keuntungan tersebut, kompensasinya Amerika mendapatkan begitu banyak komoditi barang dari berbagai negara yang menggunakan dollar. Hal ini sungguh bisnis yang sangat menggiurkan.

Amerika menikmati pendapatan yang luar biasa besar dari penciptaan mata uang dollar dengan hanya mengandalkan seignorage (selisih biaya cetak atau biaya produksi dengan nilai yang tertera di mata uang/nilai nominal). Keuntungan tersebut semakin besar didapatkan Amerika, ketika semakin banyak negara mensirkulasikan untuk kebutuhan transaksinya. Inilah bisnis abad ini yang sangat menggiurkan sekali. Cuma berbekal selembar kertas mirip kwarto dan sebotol tinta warna serta sebuah mesin cetak mampu meraup keuntungan yang sangat banyak sekali.


Salah satu virus yang ditakuti para ekonom saat ini adalah inflasi yang tidak terkendali. Lantaran itu, Hayek yang meraih Nobel ekonomi tahun 1974, mengkritik keras penggunaan fiat money. Ia mengajukan proposal radikal untuk menghapuskan peran bank sentral dan pada saat yang sama menawarkan ide untuk menggunakan mata uang yang berbasis komoditi (commodity money) seperti emas…Hayek yakin pengguna mata uang akan bisa memilih mana dari mata uang yang beredar (Apakah fiat money atau commodity money) yang akan terus bertahan, lebih kompetitif, dan memuaskan keinginan para penggunanya.

Statmen yang dilontarkan Hayek tersebut, bisa dijabarkan dalam sebuah percontohan yang lebih gamblang sebagai berikut; seseorang meminjam Rp 13 juta dari kawannya, dan berjanji akan mengembalikan dalam jumlah yang sama 10 tahun kemudian. Tentu saja rekan tersebut akan menolaknya, karena nilai Rp 13 juta sekarang akan lebih berharga dibandingkan 10 tahun kemudian. Jika Rp 13 juta saat ini (tahun 2009) bisa untuk membeli setidaknya dapat 1 motor bebek merk Honda, tapi apa yang terjadi 10 tahun kemudian. Sangat mungkin uang Rp 13 juta tidak bisa untuk membeli 1 buah motor Honda lagi, bisa jadi cuma dapat untuk membeli 1 ban motor saja. Hal ini dikarenakan terkena dampak inflasi.

Bagaimana misal, bila uang Rp 13 juta tadi diganti dengan Dinar (1 Dinar = 1,3 juta rupiah pada tahun 2009, jadi kalau Rp13 juta sebanding dengan 10 Dinar). Pertanyaannya, apakah 10 Dinar sekarang lebih berharga dibandingkan 10 tahun yang akan datang?. Memang tidak ada yang bisa memastikan. Tetapi Dinar mempunyai kecenderungan terapresiasi terhadap mata uang kertas (fiat money) manapun. Dalam perbandingan dengan mata uang rupiah, terlihat pada bulan oktober 2003 nilai tukar 1 Dinar adalah Rp 450.000, tahun 2004 senilai Rp 540.000, tahun 2005 senilai Rp 652.000, 2006 senilai Rp 785.000, 2007 senilai 974.000, dan pada juli 2008 senilai Rp 1.150.000, 2009 bulan ini senilai Rp 1.330.000. Dengan kata lain mata uang kertas (fiat money) akan terus terancam inflasi dan mata uang Dinar terbukti terus terapresiasi.


Aksi spekulasi dari pendekatan secara historis sudah terjadi semenjak beredarnya mata uang kertas yang tanpa di back up dengan emas. Setelah PD I sistem standar emas berakhir, mata uang dunia diganti oleh US Dollar. Baru setelah PD II, persoalan moneter mengarah menjadi sebuah sistem dunia, dengan dimulainya Sistem Bretton Woods. Ditandai dengan lahirnya IMF dan World Bank sejak 1944.

Sejak saat itu semua mata uang dunia berhubungan satu sama lain, dan dikaitkan dengan nilai US Dollar. Nilainya saat itu secara fixed setara dengan satu ounce emas sebanding dengan 35 Dollar. Baru pada awal 1970-an, ketika Richard Nixon menghentikan sistem fixed rate dollar, muncul fenomena sistem “pasar bebas” untuk uang. Jadi baru awal tahun 1970-an, metamorfosis mata uang kertas terjadi. Semula mata uang kertas difungsikan sebagai alat tukar semata, kemudian dijadikan sebagai alat komoditi yang sangat berharga untuk diperdagangkan. Kondisi seperti inilah yang menumbuh suburkan para spekulan dunia bermain kurs mata uang.

Dengan kejadian tersebut, aksi spekulan semakin menggila dan merobohkan bangunan ekonomi sebuah negara. Bayangkan saja, semenjak tahun 1970-an aksi spekulasi omsetnya sudah mencapai sekitar 15 milliar US Dollar. Pada periode 1980-an, saat kontrol mulai mengendor, omset tersebut meningkat empat kali lipat menjadi 60 milliar US Dollar. Dan sekarang, ketika pasar bebas semakin liberal, omset para spekulan diperkirakan mencapai 1,3 triliun US Dollar, alias melonjak lebih dari 20 kali.

Masih ingat dalam benak kita, krisis tahun1997-1998 yang menghancurkan perekonomian Indonesia. Banyak investor domestik pada panik dan trauma akan kejadian tersebut. Tetapi hal ini beda dengan yang dialami George Soros, pemilik Quantum Fund tersebut, dia justru meraup keuntungan besar sekali dari aksi spekulasi di pasar valas. Seorang spekulan kelas kakap yang meraup keuntungan miliaran dollar dari gerak naik-turunnya kurs mata uang kertas (fiat money).


Biasanya, sebuah negara mendapatkan pendanaan salah satunya dari memungut pajak dari rakyatnya. Namun bagi negara super power mereka memungut pajak dari negara-negara lainnya. Itulah berabad-abad yang lalu dikerjakan oleh Imperium Yunani, Romawi, bahkan Inggris Raya. Umumnya negara-negara lain tersebut menyerahkan upeti dalam bentuk emas dan perak. Dalam perjalannya, praktek ini semakin bermetamorfosis dalam bentuk yang lebih canggih lagi.

Namun, untuk pertama kalinya, Amerika Serikat pada abad ke-20 bisa memajaki negara-negara lain di dunia secara tidak langsung, melalui beban inflasi penciptaan mata uang dollar yang tidak di backed dengan emas. Mata uang dollar yang terdistribusi secara luas menempatkan Amerika pada tempat istimewa. Negara-negara lain harus berkeringat menyerahkan hasil buminya berupa minyak, rotan, kayu, emas, dll. Sementara sang super power cukup menukarkannya dengan uang kertas yang bisa dicetak kapan saja dengan nilai instrinsik yang tidak sebanding.

Resiko terjadinya inflasi karena pencetakan mata uang kertas (fiat money) yang melampaui batas, bisa dialihkan oleh Amerika ke beberapa negara yang lain. Caranya dengan memaksa negara-negara tersebut menggunakan mata uang dollar dalam setiap transaksinya serta menyimpannya dalam bentuk devisa negara. Dengan licik inflasi akan beralih dari Amerika ke negara-negara pengguna dollar Amerika.

Bayangkan saja, misal masyarakat Indonesia dengan susah payah mengelola minyak dan hasil bumi. Tenaga, waktu, pikiran, dibawah terik panasnya matahari, banting tulang semua sudah dicurahkan dalam rangka mengolah hasil bumi tersebut. Ternyata setelah semua berhasil dipanen/diolah, harus ditukarkan dengan beberapa lembar mata uang dollar Amerika. Apakah sebanding ? mata uang US $1000 yang sebenarnya harganya cuma 4 sen (mungkin cuma sekitar 400 rupiah) ditukar dengan beras ber ton-ton, minyak berjuta-juta barel, hasil hutan beberapa hektar, gas alam yang sangat banyak sekali.

Minyak bumi, gas alam, kerajinan, hasil hutan, ikan, bahan-bahan mentah di ekspor ke Amerika, dan ditukar oleh Amerika cuma dengan beberapa lembar kertas bertuliskan US $. Apakah sebanding ?, Apakah adil ?. Fenomena tersebut, bukannya berbicara sebanding atau tidak sebanding tukar-menukarnya, tetapi hal ini sudah merupakan perampokan besar-besaran abad ini. Perampokan yang dilakukan negara super power terhadap negara lain yang mengatasnamakan sistem mata uang kertas (fiat money). Jadi semakin banyak bangsa ini memegang dan menyimpan dollar Amerika, maka perampokan juga semakin merajalela di negeri ini.

Kepercayaan Semu

Ketika muncul sebuah pertanyaaan, “Apa bedanya mata uang Rupiah dengan mata uang pada permainan monopoli ?”. Secara fisik tidak ada bedanya, mata uang rupiah ada gambarnya, ada angka nominalnya, ada warnanya. Sedangkan mata uang pada permainan monopoli juga sama, ada gambarnya, ada angka nominalnya, ada warnanya. Kalau memang secara fisik sama dan hampir serupa, lantas kenapa mata uang rupiah berharga dan bisa digunakan untuk transaksi jual beli, sedangkan mata uang monopoli tidak berharga sama sekali . Apa yang sebenarnya terjadi ?.

Jika dikaji lebih mendalam lagi, sebenarnya semua mata uang kertas (fiat money) tidak ada harganya, tidak jauh berbeda dengan uang-uangan pada permainan monopoli. Cuma pada kasus mata uang kertas (fiat money), setiap masyarakat dipaksa oleh kebijakan pemerintah melalui sebuah undang-undang untuk mau menerima mata uang kertas (fiat money).

Agar selembar mata uang kertas (fiat money) tersebut seolah-olah berharga, anda selaku masyarakat dipaksa untuk menerimanya. Pemerintah melarang siapa pun untuk menerbitkan dan mencetak uang kertas. Siapa saja yang berani mencetak uang kertas (selain bank sentral) maka akan diancam penjara bahkan dihukum mati. Sebagai masyarakat harus menerima kebijakan ini taken for granted, tidak boleh ada protes, demo, dan perlawanan dalam bentuk apapun. Pokoknya masyarakat harus menerima mata uang kertas (fiat money) ini. Titik !.

Inilah paksaan dari setiap Bank sentral di setiap negara kepada rakyatnya. Dikemudian hari menimbulkan kebodohan warganya untuk mau menerima mata uang kertas (fiat money) yang sebenarnya adalah mata uang bohong-bohongan. Inilah gambaran betapa arogannya dan otoriternya pemerintah melalui Bank sentral kepada rakyatnya dengan mengatasnamakan “kepercayaan kepada mata uang kertas” [].

Mengkonstruksi Konsep Inflasi dalam Daulah Khilafah (bagian I)

Mengkonstruksi Konsep Inflasi dalam Daulah Khilafah (bagian I)

Sebagaimana diketahui, banyak para ekonom, baik itu ekonom konvensional maupun Islam, mengatakan bahwa salah satu permasalahan ekonomi yang harus atau wajib dipecahkan adalah persoalan inflasi. Mereka semua memandang (dari segi dampak) bahwa inflasi sangat tidak baik bagi masyarakat, meskipun dalam hal tertentu mereka memiliki pandangan yang sangat berbeda terutama dalam hal upaya penyelesaiannya.

Betapa pentingnya penyelesaian masalah inflasi bukanlah tanpa alasan. Betapa tidak, inflasi secara faktual sesungguhnya menggambarkan tingkat harga dari barang dan jasa yang sejatinya sering dibutuhkan oleh masyarakat kebanyatakan.

Dari segi urgensitas penyelesaiannya, sesungguhnya permasalahan inflasi tidaklah memandang siapa dan dari mana orangnya, apakah orang Islam atau bukan. Hal ini dikarenakan inflasi sejatinya adalah sebuah fenomena faktual dalam sebuah ekonomi. Namun, dalam dataran sebab dan bagaimana solusinya akan sangat berbeda bagaimana antara orang (ekonom) Islam dan konvensional dalam memandangnya.

Bagaimana dari segi pengukurannya atau perhitungannya, apakah juga terdapat perbedaan antara ekonom Islam dan konvensional? Dalam konsep sistem ekonomi konvensional, inflasi diukur dan diamati sedemikian rupa dengan menggunakan berbagai cara. Istilah yang terlahirpun bermacam-macam, ada inflasi inti, inflasi IHK, dan inflasi IHPB. Jenis barang dan jasa yang diukurpun juga dikelompokkan bermacam-macam, ada kelompok bahan makanan, sandang, dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga. Begitu pula teknik dan metode yang digunakan untuk mengukur besaran inflasi yang terjadi juga bermacam-macam adanya. Bagaimana dalam konsep sistem ekonomi Islam?

Tulisan ini dimaksudkan penulis sebagai kajian awal konsep inflasi dalam kerangka Daulah Khilafah. Sebuah pemerintahan yang sudah pernah berkuasa kurang lebih tiga belas abad lamanya dan diprediksikan akan kembali memimpin dunia dalam waktu dekat ini.

Urgensitas Penyelesaian Inflasi Dalam Perspektif Islam

Pentingnya persoalan inflasi diselesaikan menurut Islam dapat dimulai dari pandangan politik ekonomi Islam yang disampaikan oleh Taqiyuddin an Nabhani. Beliau mengatakan, Politik ekonomi Islam adalah menjamin terealisasinya pemenuhan semua kebutuhan primer (basic needs) setiap orang secara menyeluruh, berikut kemungkinan dirinya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekunder dan tersiernya, sesuai dengan kadar kesanggupannya sabagai individu yang hidup dalam sebuah masyarakat yang memiliki gaya hidup tertentu (Islam).1

Oleh karenanya, agar semua basic needs beserta sekunder dan tersiernya dapat terpenuhi, maka pemerintah (Khalifah) memiliki tanggung jawab untuk senantiasa menjaga tingkat harga barang dan jasa yang beredar sehingga berada dalam jangkauan masyarakat untuk membelinya.2

Dalam kerangka menjaga tingkat harga inilah kemudian dibutuhkan sebuah pengamatan terhadap barang dan jasa yang beredar sehingga dapat diketahui perkembangan tingkat harga terkini.

Menjernihkan Definisi dan Hakikat Persoalan Inflasi

Definisi inflasi

Dalam mendefinisikan inflasi, ekonom konvensional memberikan definisi yang saling berbeda. Dari beberapa definisi yang ada, setidaknya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: pertama, definisi yang menggabungkan antara penyebab dengan fenomena inflasi itu sendiri. Kedua, definisi yang hanya sebatas memberikan definisi kepada fenomenanya saja.

Contoh dari definisi yang pertama adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Ludwig von Mises (salah seorang ekonom mazhab Austria). Ia mengatakan Inflasi adalah “peningkatan jumlah uang dan uang kertas yang beredar serta kuantitas deposito bank yang dapat dicairkan.”3

Aliminsyah dan Padji memberikan definisi inflasi sebagai berikut “suatu keadaan yang menunjukkan jumlah peredaran uang yang lebih banyak dari pada jumlah barang yang beredar, sehingga menimbulkan penurunan daya beli uang dan selanjutnya terjadi kenaikan harga yang menyolok”4.

Downes dan Elliot Goodman mengatakan, inflasi adalah kenaikan dalam harga barang dan jasa, yang terjadi jika pembelanjaan bertambah dibandingkan dengan penawaran barang di pasar (dengan kata lain terlalu banyak uang yang memburu barang yang terlalu sedikit).5

Higher prices: an increase in the supply of currency or credit relative to the availability of goods and services, resulting in higher prices and a decrease in the purchasing power of money.6

A continuing rise in the general price level usu. Attributed to an increase in the volume of money and credit relative to available goods and services.7

Adapun contoh dari definisi yang kedua misalnya adalah sebagai berikut:

Inflasi dalam Dictionary of Economics didefinisikan dengan suatu peningkatan tingkat harga umum dalam suatu perekonomian yang berlangsung secara terus menerus dari waktu ke waktu.8

Samuelson dan Nordhaus dalam buku mereka Macro Economics mendefinisikan inflasi dengan cukup singkat yaitu kenaikan tingkat harga umum.9

Bank Indonesia mendefinisikan inflasi dengan kecenderungan dari harga-harga untuk meningkat secara umum dan terus menerus.10

Badan kebijakan fiskal Departemen Keuangan mendefinisikan inflasi dengan sebuah proses kenaikan harga-harga secara umum dan berkelanjutan sebagai akibat adanya ketidakseimbangan (excess demand) dalam perekonomian.11

Terjadinya perbedaan dalam mendefinisikan inflasi di atas dikarenakan sebagian pakar ekonomi menjelaskan makna inflasi berdasarkan sebab yang menimbulkan inflasi dan sebagian yang lain berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh inflasi.12

Dari dua kelompok definisi di atas, penulis cenderung untuk sepakat dan menggunakan definisi inflasi dari kelompok yang kedua dengan menambahkan beberapa point. Mengapa kelompok yang kedua?

Pertama, harus kita pahami bahwa sebuah definisi adakalanya berasal dari sebuah konsep tentang nilai yang dalam perumusannya diharuskan merujuk kepada dalil-dalil syar’i dan adakalanya terkait dengan konsep yang murni berasal dari sebuah fakta.13

Definisi inflasi sepenuhnya didasarkan pada penelaahan yang cermat (dan tepat) terhadap fakta fenomena perkembangan harga barang dan jasa. Dengan kata lain, definisi inflasi adalah berbicara fakta apa adanya (das sein), bukan berbicara apa yang seharusnya (das sollen).14 Dalam hal ini, definisi inflasi kelompok yang ke pertama tidaklah menggambarkan fakta apa adanya.15

Ini sama halnya ketika kita mendefinisikan tentang akal. Akal atau berpikir adalah proses pemindahan fakta melalui indera ke dalam otak disertai dengan informasi sebelumnya yang digunakan untuk menafsirkan fakta tersebut. Definisi ini diperoleh dari fakta kegiatan berpikir manusia.16 Metode telaah seperti inilah yang seharusnya juga diterapkan dalam mendefinisikan fakta tentang inflasi.

Kedua, sebagaimana halnya definisi kebijakan moneter, definisi inflasi kelompok yang ke dua memasukkan unsur besaran jumlah uang beredar sehingga definisi tersebut tidak bersifat netral (mengikuti aliran moneteris). Dengan kata lain, ia hanya memuat salah satu dari penyebab terjadinya inflasi. Padahal secara faktual penyebab inflasi sangatlah beragam.

Berdasarkan penjelasan di atas, Penulis mendefinisikan inflasi adalah sebagai suatu fakta (kejadian) yang menunjukkan telah terjadi kenaikan relatif harga barang dan jasa baik dalam satu jenis maupun secara umum (dalam banyak jenis), dimana kenaikan itu dapat dinilai berdasarkan nilai sebuah mata uang ataupun benda yang lainnya.

Penjelasan definisi:

Sebagai suatu fakta, maksudnya adalah inflasi merupakan sebuah kejadian yang benar-benar terjadi.

Kenaikan relatif, maksudnya adalah meskipun kenaikan dari harga barang dan jasa yang ada tidaklah sama atau dalam prosentase yang saling berbeda tetaplah dikatakan sebagai sebuah inflasi.

Dalam satu satu jenis maupun secara umum, artinya dikatakan inflasi meskipun barang dan jasa yang mengalami kenaikan harganya hanya satu jenis.

Kenaikan itu dapat dinilai berdasarkan nilai sebuah mata uang ataupun benda yang lainnya, maksudnya adalah untuk menunjukkan bahwa kenaikan harga barang yang terjadi dapat diketahui dari nilai sebuah mata uang ataupun dengan benda lainnya. Tidak semata-mata hanya dapat diketahui dari mata uang. Lebih dari itu, bagian dari definisi ini bukan bermaksud menunjukkan bahwa penyebab terjadinya inflasi hanya karena nilai uang yang turun atau banyaknya uang yang beredar. BERSAMBUNG [JURNAL EKONOMI IDEOLOGIS / www.jurnal-ekonomi.org]